UHTS Cocok untuk Para Tukang Emosional di Indonesia

Saya sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia, terutama wakli dari Melanesia yang selama 5 tahun terakhir belajar di Universal Healing Tao System merasa bangga bahwa ada banyak yang dapat saya persembahkan kepada manusia di dunia ini. Terutama sekali situasi Indonesia yang penuh dengan amarah dan kebencian, caci-maki dan dengki, merupakan sebuah fenomena yang harus kita rangkul, sesuai dengan rumus Yin dan Yang, keduanya kita harus belajar kelola yang negatif menjadi kekuatan, dan yang positif menjadi bertambah dan berbuah, yang satu tidak melebih yang lain, tetapi yang satu mengimbangi yang lain.
Paradigma berpikir dualisme yang mempertentangkan haruslah kita tinggalkan dan kita gantikan dengan dualisme yang complementary dan interdependence, balancing forces, yang melahirkan keselarasan hidup.
Saya harap setelah pulang ke Indonesia, ada orang Indonesia yang mau belajar. Terutama sekali saya harap Pak Ahok mau belajar dari UHTS ini, agar biar kalau Tuhan beri dia waktu menjabat kembali Gubernur DKI Jakarta, maka mereka akan melihat Basuki yang murah senyum, Ahok yang segar dengan wajah adem, dan Ahok yang tegas tetapi tidak emosional.
UHTS atau Universal Healing Tao System mengajarkan langkah demi langkah, aspek demi aspek, tindakan demi tindakan yang dapat kita lakukan untuk menyembuhkan atau lebih tepat menetralisir berbagai emosi negatif yang selalu menghantui kehidupan kita.
Pertama saya ikut UHTS tahun 2015. Alasan utama saya karena saya mau mendedikasikan diri saya untuk bangsa Papua dan juga kita di seluruh Indonesia sehingga pada waktu mendatang kita tidak tampil di tempat publik, di layar televisi, di mimbar khotbah dan dakwah, di pengadilan, di tempat demonstrasi dengan wajah-wajah, nada-nada, dan kalimat-kalimat emosional, tidak rasional, dan kalaupun rasional, rasio yang penuh dendam dan dengki.
Suasana emosi sosial yang ada di Indonesia sejak Orde Baru runtuh tidak kita selidiki secara mendalam. Padahal suasana emosional masyarakat di Indonesia sudah ambruk, lebih emosional daripada rasional, dan rasional kita semakin banyak dikuasai oleh emosi kita. Kalau kehidupan kita dalam pribadi maupun keluarga, suku, bangsa dan bernegara dikuasai dan dikendalikan oleh “emosi”, maka semua orang bisa bayangkan apa yang dapat terjadi.
Emosi memang bagus bagi para penguasa, dan para pengusaha, digunakan untuk mengolah kekuasaan. Tetapi emosi adalah penyakit prikologis personal. Kalau emosi sudah memasyarakat, maka ia telah menjadi penyakit sosial di Indonesia.
Saya selalu nonton TV, baca pernyaaan para politisi, dan lebih-lebih tokoh agama di Indonesia. Hampir semuanya penuh dengan emosi, benci, curiga dan amarah. Indonesia sudah kehilangan air, tidak ada yang menyirami kepanasan ini.
Saya berdoa kepada Tuhan, supaya UHTS yang saya pelajari ini, paling tidak memberikan setetes air yang membantu mendinginkan emosi masyarakat Indonesia yang panasnya sudah melebihi 100 derajad celcius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *