Tag Archives: Micro-Cosmic Orbit

“walk sprightly like a pigeon and sleep like a dog.”

” walk sprightly like a pigeon and sleep like a dog”..

walk sprightly like a pigeon
walk sprightly like a pigeon

Jawaban ketiga dari si Nenek-Moyang atas pertanyaan “Apa rahasia umur panjang?” ialah “berjalan-lah seperti seekor merpati ”

Bagaimana cara jalan merpati itu” Ia katakan “sprightly”, yaitu dengan “segar”, “riang”, “sigap”.

Berjalan seperti merpati adalah metode untuk menyerap energi bumi yang tersedia sepanjang masa. Dalam metode Chi Kung, cara berjalan ini dilakukan biasanya di pagi hari ketika embun masih banyak bermunculan di tanah.

Berjalan seperti merpati tidak sama dengan berjalan seperti seorang pastor dengan tongkat ujung miringnya sering jalan-jalan ke tempat-tempat keramaian di pagi atau sore hari, dengan sepanjang jalan bermuka sangat serius, dengan wajah jelas menunjukkan pikirannya lari ke arah lain, badannya lari ke tempat lain. Bukan seperti itu.

Bukan juga seperti para atlit yang mengenakan headphones dan memutar lagu-lagu disco dengan volume besar-besar lalu lari di tengah terik matahari.

Berjalan seperti merpati artinya dalam kondisi psikologis “kekinian” dan “ke-sini-an”, tidak memikirkan kemarin atau besok, tidak memikirkan ke-sana atau di sana, tetapi di sini, dan saat ini menjadi fokus. Apa yang dapat dilihat, dan apa yang dapat dinikmati saat ini di sini.

Ada satu artikel dalam blog ditulis seperti ini:

Pigeons pick up their feet when they move around, they don’t wear boots or shoes nor have hoofs, …, pigeons are constantly exercising. Necks and wings and feet. The little buggers are pretty quick, …. <https://www.sanurjewellerystudio.com/>

Merpati sering makan jari-jari mereka saat mereka berjalan-jalan, tidak mengenakan boots atau sepatu atau punya hoofs, mereka terus-menerus begerak. Leher, sayap dan kaki. Mereka bergerak begitu cepat pula.

Latar Belakang

Ini artikel kedua dari jawaban nenek tua berumur 256 tahun seperti saya sudah sebutkan dalam blogKisah Kita Semua: (256 Years Old Man Breaks The Silence Before His Death And Reveals SHOCKING Secrets To The World)

Kalimat yang berisi RUMUS EMAS (Goldern Rules) untuk hidup berumur panjang ini keluar dari bibir sang nenek-moyang berusia duaratus tahun lebih ini pada saat ditanyakan oleh seorang penanya “Apa rahasia umur panjang?”

Dan jawabannya sungguh mengejutkan. Bukan Omega-3, bukan multi-vitamin, bukan makan baik-baik, tidak dikatakan makan banyak buah dan daun-daun, tidak juga barang-barang modern lainnya.

Kalau seorang barat di Amerika Serikat atau Inggris diajukan pertanyaan ini, dia kemungkinan besar akan menjawab, “Banyak makan daun-daunan, jauhi makan daging sama sekali, perbanyak minyak ikan, lakukan yoga tiap hari, …” dan sejenisnya.

Kalau saya tanyakan kepada orang di non-Barat, seperti di Malaysia, Indonesia, Papua New Guinea, Vanuatu, maka jawaban seperti “Ya, yang penting banyak beralam, banyak berdoa, perbayak sedekah, insya Allah, akan diberikan umur panjang!”

Si Nenek-Moyang ini memberikan empat jawaban (1) pertama, “keep a quiet heart“, (2) kedua, “sit like a tortoise“; (3) Ketiga, “walk sprightly like a pigeon” dan (4) keempat “sleep like a dog

[bersambung ke artikel keempat/ terakhir]

“sit like a tortoise, walk sprightly like a pigeon and sleep like a dog.”

“…, sit like a tortoise, walk sprightly like a pigeon and sleep like a dog”..

Posisi Kepala Kura-Kura Pada Saat Duduk, sebelum Maju Rata Tanah lalu Diangkat
Posisi Kepala Kura-Kura1. Pada Saat Duduk, sebelum Maju Rata Tanah lalu Diangkat

Posisi pertama ialah kepala rata di atas tanah, lalu maju ke depan seperti di gambar 1 di atas. Setelah maju ke depan lalu ditarik mundur seperti dalam gambar 2 berikut:

Posisi Duduk Kura-Kura
Posisi Duduk Kura-Kura: 3. Kepala Kura-Kura Saat Ditarik Mundur
Kepala Kura-Kura
Kepala Kura-Kura Posisisi 3. Saat melakukan gerak maju ke depan

 

Jawaban kedua dari si Nenek-Moyang atas pertanyaan “Apa rahasia umur panjang?” ialah “duduklah seperti kura-kura darat”

Kedua, Duduk Seperti Kura-Kura

Ia mengatakan agar untuk hidup sehat kita  menirukan kura-kura yang tetap mengelola pernapasannya ketika duduk diam dan menarik semua indra, tetapi pikiran benar-benar terjaga. Ini metode regenerasi yang paling kuat, sehingga akan memperpanjang hidup.

Cara kura-kura bernafas ialah dengan memajukan kepalanya sambil menuju ke depan, dan menariknya sambil kembali duduk, maju, mundur, yaitu sebuah gerakan dari “orbit kosmik” seperti yang telah saya sebutkan dalam artikel lainnya.

Dengan orbit kosmik, kita lakukan gerakan, yaitu gerakan dengan fokus dan perhatian membawa keluar dan masuk nafas kita, dan membawanya dari kaki sampai ke kepala, lalu membawanya kembali, dengan aliran nafas dari depan naik ke atas, dari belakang turun, dari belakang naik, dari depan turun.

Dalam gerakan Cosmic Orbit sistem UHT disebut “Turtle Neck”. Cara menggerakkan seperti ini

  1. posisis duduk tegak lurus
  2. kepala maju ke depan dengan cara melipat perut, bukan dengan membawa kepala turun, tetapi dengan melihat perut, secara otomatis kepala akan turun saat perut dilipat. saat ini udara dikeluarkan dari perut.
  3. kepala turun sampai ke dekat tanah/ lantai
  4. kepala maju rata-rata lantai/ tanah
  5. setelah maju, kepala diangkat kembali dengan cara perut yang kembali  Udara yang tadi dikeluarkan dari perut dibuka supaya ia terisi udara secara otomatis,
  6. begitu terus secara berputar, putar dan putar.

Pernah lihat bebek berteriak bersama-sama saat orang datang mendekati mereka. Pada saat berteriak, kepala mereja menunduk, lalu maju ke depan sambil kepala menunduk ke tanah, lalu diangkat kembali sambil berteriak. Itulah bentuk gerakan “turtle neck”.

Selain gerakan ini, kita juga harus mencatat pernafasan kita haruslah “non-stop” dalam circle of breath”, yaitu pernafasan kita lakukan dalam lingkaran tak putus-putus. Nafas tidak ditahan saat ditarik, tidak ditahan setelah dilepaskan, tetapi terus-menerus bersambung.

Hal ketiga, saat pernafasan terjadi kura-kura tetap memperhatikan gerakan dan arah dari nafas dimaksud.

Duduk seperti kura-kura berarti bukan duduk seperti manusia di atas kursi dan sofa. Kalau di atas kursi, kita harusnya duduk dengan tulang ekor, dan sebagian depan di mana terdapat alat kelamin seharusnya menggantung, tidak kandas/ terkena di bangku/ kursi. Tujuannya supaya pergerakan energi dari keseluruhan tubuh tidak terhambat.

Kebiasaan menimpakan kaki yang satu terhadpa kaki lagi, saat bersila kaki sambil duduk di kursi juga sangat merugikan peredaran energi di dalam tubuh.

Duduk seperti kura-kura darat artinya memperhatikan ini semua, sambil kita melakukan pernafasan dengan penuh perhatian.

Latar Belakang

Ini artikel kedua dari jawaban nenek tua berumur 256 tahun seperti saya sudah sebutkan dalam blogKisah Kita Semua: (256 Years Old Man Breaks The Silence Before His Death And Reveals SHOCKING Secrets To The World)

Kalimat yang berisi RUMUS EMAS (Goldern Rules) untuk hidup berumur panjang ini keluar dari bibir sang nenek-moyang berusia duaratus tahun lebih ini pada saat ditanyakan oleh seorang penanya “Apa rahasia umur panjang?”

Dan jawabannya sungguh mengejutkan. Bukan Omega-3, bukan multi-vitamin, bukan makan baik-baik, tidak dikatakan makan banyak buah dan daun-daun, tidak juga barang-barang modern lainnya.

Kalau seorang barat di Amerika Serikat atau Inggris diajukan pertanyaan ini, dia kemungkinan besar akan menjawab, “Banyak makan daun-daunan, jauhi makan daging sama sekali, perbanyak minyak ikan, lakukan yoga tiap hari, …” dan sejenisnya.

Kalau saya tanyakan kepada orang di non-Barat, seperti di Malaysia, Indonesia, Papua New Guinea, Vanuatu, maka jawaban seperti “Ya, yang penting banyak beralam, banyak berdoa, perbayak sedekah, insya Allah, akan diberikan umur panjang!”

Si Nenek-Moyang ini memberikan empat jawaban (1) pertama, “keep a quiet heart“, (2) kedua, “sit like a tortoise“; (3) Ketiga, “walk sprightly like a pigeon” dan (4) keempat “sleep like a dog

[bersambung ke artikel ketiga dan keempat]

UHTS Cocok untuk Para Tukang Emosional di Indonesia

Saya sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia, terutama wakli dari Melanesia yang selama 5 tahun terakhir belajar di Universal Healing Tao System merasa bangga bahwa ada banyak yang dapat saya persembahkan kepada manusia di dunia ini. Terutama sekali situasi Indonesia yang penuh dengan amarah dan kebencian, caci-maki dan dengki, merupakan sebuah fenomena yang harus kita rangkul, sesuai dengan rumus Yin dan Yang, keduanya kita harus belajar kelola yang negatif menjadi kekuatan, dan yang positif menjadi bertambah dan berbuah, yang satu tidak melebih yang lain, tetapi yang satu mengimbangi yang lain.
Paradigma berpikir dualisme yang mempertentangkan haruslah kita tinggalkan dan kita gantikan dengan dualisme yang complementary dan interdependence, balancing forces, yang melahirkan keselarasan hidup.
Saya harap setelah pulang ke Indonesia, ada orang Indonesia yang mau belajar. Terutama sekali saya harap Pak Ahok mau belajar dari UHTS ini, agar biar kalau Tuhan beri dia waktu menjabat kembali Gubernur DKI Jakarta, maka mereka akan melihat Basuki yang murah senyum, Ahok yang segar dengan wajah adem, dan Ahok yang tegas tetapi tidak emosional.
UHTS atau Universal Healing Tao System mengajarkan langkah demi langkah, aspek demi aspek, tindakan demi tindakan yang dapat kita lakukan untuk menyembuhkan atau lebih tepat menetralisir berbagai emosi negatif yang selalu menghantui kehidupan kita.
Pertama saya ikut UHTS tahun 2015. Alasan utama saya karena saya mau mendedikasikan diri saya untuk bangsa Papua dan juga kita di seluruh Indonesia sehingga pada waktu mendatang kita tidak tampil di tempat publik, di layar televisi, di mimbar khotbah dan dakwah, di pengadilan, di tempat demonstrasi dengan wajah-wajah, nada-nada, dan kalimat-kalimat emosional, tidak rasional, dan kalaupun rasional, rasio yang penuh dendam dan dengki.
Suasana emosi sosial yang ada di Indonesia sejak Orde Baru runtuh tidak kita selidiki secara mendalam. Padahal suasana emosional masyarakat di Indonesia sudah ambruk, lebih emosional daripada rasional, dan rasional kita semakin banyak dikuasai oleh emosi kita. Kalau kehidupan kita dalam pribadi maupun keluarga, suku, bangsa dan bernegara dikuasai dan dikendalikan oleh “emosi”, maka semua orang bisa bayangkan apa yang dapat terjadi.
Emosi memang bagus bagi para penguasa, dan para pengusaha, digunakan untuk mengolah kekuasaan. Tetapi emosi adalah penyakit prikologis personal. Kalau emosi sudah memasyarakat, maka ia telah menjadi penyakit sosial di Indonesia.
Saya selalu nonton TV, baca pernyaaan para politisi, dan lebih-lebih tokoh agama di Indonesia. Hampir semuanya penuh dengan emosi, benci, curiga dan amarah. Indonesia sudah kehilangan air, tidak ada yang menyirami kepanasan ini.
Saya berdoa kepada Tuhan, supaya UHTS yang saya pelajari ini, paling tidak memberikan setetes air yang membantu mendinginkan emosi masyarakat Indonesia yang panasnya sudah melebihi 100 derajad celcius.