Tag Archives: love

Kita Terbiasa Mengekspresikan Emosi secara Salah

Para pakar psikolog maupun para pengajar doktrin agama akan mengajarkan kepada kita bahwa emosi yang ada harus diekspresikan. Cara mengekspresikan yang sering dipakai ialah dengan cara atau bahasa rohani yang kita sebut sebagai “pengakuan”. Kata agama Kristen secara khusus punya diskursus teologi panjang-lebar tentang pengampunan Allah dan mengampuni sesama manusia sebagai bukti ke-Kristen-an seseorang.
Psikologi dan konselor psikologi juga sama, mereka punya teknik yang dipelajari untuk membantu seseorang mengekspresikan emosi-emosi yang terpendam.
Kita masih ingat acara di Trans TV bernama “Uya-Kuya”. Acara ini disiarkan karena dia membantu orang mengekspresikan atau juga menceritakan apa-apa yang dipendam, bisa emosi yang dipendam, bisa rahasia yang disimpan. Yang penting hal-hal yang tidak kelihatan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari apa yang terjadi di Uya-Kuya dan dari berbagai buku psikologi yang saya baca, juga dari pengalaman beragama selama ini, saya mendapatkan gambaran jelas, bahwa tujuan daripada ekpresi emosi yang diusung oleh prikolog maupun ajaran agama ialah supaya hal-hal yang terpendam disampaikan, dikeluarkan. Dengan mengucapkan hal-hal yang terpendam dimaksud, dianggap sebagai sebuah “pelepasan”.
Padahal, saya dan kita harus akui, dari sejumlah pengalaman kita sendiri, bahwa mengekspresikan emosi-emosi terpendam, atau hal-hal yang selama ini kita sembunyikan tidak serta-merta dan tidak semuanya menyelesaikan masalah. Malahan ada masalah baru yang muncul sebagai tindak-lanjutnya.
Di satu sisi pihak yang mengaku atau membongkar rahasia menjadi semakin tertekan secara psikologis, walaupun pada saat pengakuan sudah didoakan atau dinasehati, yang jelas apa yang terpendam sudah tereksposes, paling tidak sudah ketahuan sama lebih dari satu orang. Di sisi lain, kalau ekspresi emosi atau pembongkaran rahasia itu terkait dengan orang lain, maka dengan perbuatan itu sendiri kita secara langsung memberikan pengaruh psikologis kepada oknum atau pihak yang kita marah kepadanya, atau rahasia yang kita simpan yang terkait dengan orang lain dimaksud.
Bayangkan saja kalau rahasia itu terkait hubungan suami-isteri atau pacaran. Bayangkan saja kalau sebuah pengakuan tidak melahirkan pemaafan. Atau sudah terjadi pemaafan tetapi tidak dengan sepenuh hati. Maka sebenarnya masalahnya tambah meluas, bukannya menghilang.
Dengan UHTS (Universal Healting Tao System) kita tidak perlu mengekspresikan dalam bentuk pengakuan atau pembongkaran, tetapi yang kita lakukan ialah proses “transformasi” emosi, dari yang negatif ke positif.
Kalau yang terjadi transformasi, maka yang berubah bukan relasi saya, tetapi saya yang berubah. Patokan perubahan ada pada saya, bukan kepada orang lain. Dengan perubahan yang telah terjadi dimaksud, akan memancarkan “love”, “peace”, “joy” dan “happiness” yang melimpah di dalam diri kita kepada sesama kita. Dengan “love”, “peace”, “joy” dan “happiness” yang kita kelola dan tumbuh-kembangkan di dalam organ kita, maka kita akan sanggup keluar dari belenggu-belengu emosional yang menghimpit dan memenjarakan kita.
Ekpresi emosi yang membantu kita bertumbuh sehat dan bersahaja ialah dengan men-transpormasi-kan emosi-emosi dimaksud, bukan dengan cara mengakui dan mminta maaf, yang dampaknya menularkan emosi negatif yang ada pada kita kepada pihak lain.
Source: Facebook.com