Tag Archives: ekspresi emosi

Emosi Jangan Ditekan, tetapi Perlu Ditransformasi untuk Kebajikan

Banyak buku telah saya baca, ajaran agama Kristen juga sudah hampir seumur hidup saya tekuni, saya sudah lama mencaritahu, sudah lama berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk membantu saya mengendalikan emosi-emosi saya yang sering sekali meledak, tak terkendali. Usia saya sudah 50 tahun, mungkin karena alasan usia, ledakan emosi itu tidak lagi seperti sebelum-sebelumnya.

Akan tetapi ada satu hal yang saya temukan di awal tahun 2015, waktu itu saya hadiri sebuah konferensi tentang Kopi yang diselenggarakan oleh Chiang Mai University, Kerajaan Muang Thai <http://baliemarabica.com/2015/ksu-b…>

Saya tidak dapat bertahan dengan keramaian kota, maka saya mintakan tempat yang lebih sunyi dan saya diantar ke Tao Garden Health Spa & Resort, kata sopir taksi waktu itu, “ini tempat yang cocok buat Anda, karena ini sunyi, dan juga ada ajaran-ajaran yang penting buat Anda sebagai orang dari kampung”.

Saya sangat berhutang budi kepada sang supir taksi, saya menyesal tidak memintakan nomor teleponnya. Setelah saya diberitahu, saya menelepon Tao Garden dan book satu kamar. Setelah itu 1 jam kemudian saya sudah ada di Tao Garden. Kemudian saya ketahui bahwa persoalan “emosi”, yang selama ini saya geluti untuk saya kendalikan, dapat ditransformasi dan dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai energi bagi saya untuk berbuat baik dan berbagi.

Saya tidak jadi pulang selesai konferensi kopi yang berlangsung dua hari.

Selama 3 minggu selanjutnya saya habiskan di retreat Tao Garden.
Saya temukan hal yang paling sederhana, yaitu cara sederhana mengelola emosi-emosi. Grandmaster Mantak Chia katakan, pertama-tama, hapuskan pemikiran baik-buruk, kudus-kotor, salah-benar, hitam-putih. Tinggalkan keberpihakan diri kita. Semua emosi negatif dan positif tidak berarti yang negatif salah dan yang positif bagus, tetapi kita berikan kedua nama sama seperti kita berikan nama kepada seorang manusia, misalnya nama Jhon Kwano. Nama tidak berarti baik dan buruk, tetapi ia menjelaskan oknum. Emosi negatif dan emosi positif juga menyebutkan identitas emosi, tidak berarti jelek dan baik.

Yang kedua, kita harus tahu di mana emosi-emosi itu biasanya tersimpan. Dalam pemahaman Tao Healing, semua emosi terbagi-bagi ke dalam lima organ tubuh manusia, sesuai dengan lima unsur: api, air, tanah, kayu dan logam. Secara alamiah api mengandung suhu “panas”, air punya sifat mendinginkan/ memadamkan, air menguap kalau dipanaskan, api bisa mati kalau disiram air. Setelah mengidentifikasi sifat dari setiap unsur dalam organ, maka kita kaitkan dengan sifat dari masing-masing emosi. Misalnya, panas sebagai sifat api dikaitkan dengan kekejaman. Karena itu, orang kejam perlu mengelola emosi yang ada di janjtung. Saya, Jhon Kwano punya phobia ketinggian waktu itu. Rasa takut dan rasa dingin sangat berkaitan. Lihat saja seekor anjing kalau dikejar dan merasa terancam serta rasa takut, pasti dia gemetaran dan kencing. Mengapa gelap dan takut berkaitan? Karena gelap berkaitan dengan dingin dan dingin berkaitan dengan takut atau phobia. Siapa saja yang merasa dingin biasanya gemetaran, siapa saja yang merasa takut juga ada gemetaran. Sama kan? Maka untuk para penakut dan phobia seperti saya, saya harus temukan di mana letaknya organ yang mewakili atau terkait dengan air, yaitu kedua “kidneys”, (saya lupa bahasa Indonesianya apa).

Kita lakukan identifikasi semua organ dan kaitannya dengan emosi-emosi yang kita punya: rasa sedih, rasa gelisah, rasa tidak percaya, rasa takut, rasa curiga, rasa marah, dan seterusnya. Semuanya kita identifikasi dan hubungkan dengan organ dan unsur alamiah.

Ketiga, kita lakukan sejumlah proses alamiah untuk mengenal, bersalaman dengan, dan berkomunikasi dengan organ-organ kita yang menyimpan emosi-emosi dimaksud.

Keempat, setelah berkomunikasi dengan organ-organ kita yang menyimpan emosi-emosi, maka kita lakukan langkah-langkah teknis untuk berbicara dengan emosi negatif dan berkomunikasi dengan emosi positif. Misalnya, rasa curiga dan tidak cemburu biasaya tersimpan di “spleen”, daerah perut. Oleh karena itu kita berkomunikasi dengan perut kita, lalu kita identifikasi orang siapa, pihak mana yang kita curigai dan tidak percaya. Lalu kita gantikan emosi negatif dengan emosi positif, yaitu “rasa saling percaya”. Dengan demikian secara otomatis rasa curiga dan tidak percaya akan tergantikan oleh rasa percaya.

Yang kita lakukan di sini ialah kita “re-programming” tubuh kita, perasaan kita, emosi kita, otak kita. Proses ini tidak menghapuskan emosi negatif, tetapi mentranspormasi. Proses ini juga tidak menekan (suppress) emosi-emosi yang ada, tetapi mengekspresikan emosi dimaksud dan ekpresi itu dilakukan lewat transformasi.

Semain emosi ditekan, semakin kuat tekanan yang diterima emosi dimaksud, semakin dahsyat daya ledaknya. Dan kalau meledak akan berdampak tidak membangun bagi pribadi sendiri maupun bagi siapa saja terdampak oleh ledakan emosi tersebut.

Kita Terbiasa Mengekspresikan Emosi secara Salah

Para pakar psikolog maupun para pengajar doktrin agama akan mengajarkan kepada kita bahwa emosi yang ada harus diekspresikan. Cara mengekspresikan yang sering dipakai ialah dengan cara atau bahasa rohani yang kita sebut sebagai “pengakuan”. Kata agama Kristen secara khusus punya diskursus teologi panjang-lebar tentang pengampunan Allah dan mengampuni sesama manusia sebagai bukti ke-Kristen-an seseorang.
Psikologi dan konselor psikologi juga sama, mereka punya teknik yang dipelajari untuk membantu seseorang mengekspresikan emosi-emosi yang terpendam.
Kita masih ingat acara di Trans TV bernama “Uya-Kuya”. Acara ini disiarkan karena dia membantu orang mengekspresikan atau juga menceritakan apa-apa yang dipendam, bisa emosi yang dipendam, bisa rahasia yang disimpan. Yang penting hal-hal yang tidak kelihatan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari apa yang terjadi di Uya-Kuya dan dari berbagai buku psikologi yang saya baca, juga dari pengalaman beragama selama ini, saya mendapatkan gambaran jelas, bahwa tujuan daripada ekpresi emosi yang diusung oleh prikolog maupun ajaran agama ialah supaya hal-hal yang terpendam disampaikan, dikeluarkan. Dengan mengucapkan hal-hal yang terpendam dimaksud, dianggap sebagai sebuah “pelepasan”.
Padahal, saya dan kita harus akui, dari sejumlah pengalaman kita sendiri, bahwa mengekspresikan emosi-emosi terpendam, atau hal-hal yang selama ini kita sembunyikan tidak serta-merta dan tidak semuanya menyelesaikan masalah. Malahan ada masalah baru yang muncul sebagai tindak-lanjutnya.
Di satu sisi pihak yang mengaku atau membongkar rahasia menjadi semakin tertekan secara psikologis, walaupun pada saat pengakuan sudah didoakan atau dinasehati, yang jelas apa yang terpendam sudah tereksposes, paling tidak sudah ketahuan sama lebih dari satu orang. Di sisi lain, kalau ekspresi emosi atau pembongkaran rahasia itu terkait dengan orang lain, maka dengan perbuatan itu sendiri kita secara langsung memberikan pengaruh psikologis kepada oknum atau pihak yang kita marah kepadanya, atau rahasia yang kita simpan yang terkait dengan orang lain dimaksud.
Bayangkan saja kalau rahasia itu terkait hubungan suami-isteri atau pacaran. Bayangkan saja kalau sebuah pengakuan tidak melahirkan pemaafan. Atau sudah terjadi pemaafan tetapi tidak dengan sepenuh hati. Maka sebenarnya masalahnya tambah meluas, bukannya menghilang.
Dengan UHTS (Universal Healting Tao System) kita tidak perlu mengekspresikan dalam bentuk pengakuan atau pembongkaran, tetapi yang kita lakukan ialah proses “transformasi” emosi, dari yang negatif ke positif.
Kalau yang terjadi transformasi, maka yang berubah bukan relasi saya, tetapi saya yang berubah. Patokan perubahan ada pada saya, bukan kepada orang lain. Dengan perubahan yang telah terjadi dimaksud, akan memancarkan “love”, “peace”, “joy” dan “happiness” yang melimpah di dalam diri kita kepada sesama kita. Dengan “love”, “peace”, “joy” dan “happiness” yang kita kelola dan tumbuh-kembangkan di dalam organ kita, maka kita akan sanggup keluar dari belenggu-belengu emosional yang menghimpit dan memenjarakan kita.
Ekpresi emosi yang membantu kita bertumbuh sehat dan bersahaja ialah dengan men-transpormasi-kan emosi-emosi dimaksud, bukan dengan cara mengakui dan mminta maaf, yang dampaknya menularkan emosi negatif yang ada pada kita kepada pihak lain.
Source: Facebook.com